Novel Berdarah
Aku sedang duduk santai di teras rumah setelah menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah yang diberikan orangtuaku sebelum pergi ke rumah Paman Wiko. Bibi Nur datang sambil membawa secangkir kopi panas dan meletakkannya di sampingku. “Ini, Non, kopinya,” kata Bibi Nur. Aku terheran-heran. Sejak kapan aku suka ngopi dan kapan aku memesannya? Belum sempat protes, seorang tukang pos berhenti di depan pagar rumahku. Memencet bel dan memaksaku bangun dan menghampirinya. Saat aku sampai di sana, tukang pos itu menghilang tanpa jejak. Aku kembali terheran-heran. Aku mengamati sekelilingku tapi aku tak menemukan apapun. Dengan kesal, kulangkahkan kaki memasuki halaman rumah. Dan kudapati sepiring nasi goreng di atas meja di teras. “Tampaknya Bibi Nur sedang nge- heng .” Kataku lalu masuk ke dalam, menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kubuka pintu kamar namun ada sesuatu yang aneh, pintunya terkunci! Lagi-lagi aku terheran-heran. Jelas-jelas tadi pagi pintu kubiarkan terbuka. Lal...