[22.13] - Belenggu
Malam Minggu, pukul sepuluh lewat tiga belas,
© Philostories x IniBukanAkhir, 2021
Masih berkutat dalam belenggu, namun sedang dalam usaha untuk terbebas.
Yah anggap itu anugerah.
"Kamu itu harus bisa terlihat kuat, harus bisa terlihat bahagia."
Kata-kata itu lah yang sering menempel di otakku sebagai seseorang yang prinsipnya cenderung selalu memprioritaskan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Karena terkadang aku merasa bahwa apa yang terlihat oleh orang lain terhadapku itu penting.
Supaya saat aku terlihat kuat, aku bisa meyakinkan orang lain untuk tetap bertahan.
Supaya saat aku terlihat bahagia, aku bisa meyakinkan orang bahwa semua derita ini hanya sementara.
Supaya saat aku terlihat kuat, aku bisa meyakinkan orang lain untuk tetap bertahan.
Supaya saat aku terlihat bahagia, aku bisa meyakinkan orang bahwa semua derita ini hanya sementara.
Supaya mereka punya figur dan mampu untuk melepas diri dari belenggu yang menahan mereka.
Tetapi, hal itu ternyata tidak berlaku sebaliknya.
Hanya sekadar "terlihat kuat", tidak menjadikanku benar-benar kuat.
Hanya sekadar "terlihat bahagia", tidak membuatku benar-benar bahagia.
Aku tidak bisa menjadikan diriku sebagai figurku sendiri, karena ku tahu bahwa aku hanya mampu membentuk imaji akan apa yang kelihatan. Namun menyadari bahwa upayaku hanyalah untuk menyembunyikan apa yang tidak kelihatan.
Saat mereka berhasil lepas dari belenggunya dan berlari menuju ambang bebas,
Aku memang turut bahagia.
Namun ketika aku menyadari bahwa mereka semakin jauh dan aku masih terbelenggu rantai ini,
Di saat itulah aku merasa palsu sekaligus bertanya-tanya.
Adakah yang akan kembali dan membantuku melepas rantai ini?
Siapakah kita dalam perkara ini?
.
.
Ambisiku adalah menjadi sosok penopang,
Ancamanku adalah tak menyadari bahwa aku juga butuh ditopang.
Semesta sedang memberimu peran. Mampukah kamu perkatakan dalam dirimu, bahwa ini bukan akhir?
Bagus bgtπππ
ReplyDeleteKesini krn link dr oc lineπ»
Makasi kaa, semoga ngena π
Deleteππππ
Delete